Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Mei 2013
DUA BATAS LAUTAN , SUBHANALLAH
DUA BATAS LAUTAN , SUBHANALLAH - Salah satu fakta ilmiah yang tidak bisa kita tutupi dibuktikan Surat Ar-Rahman dimana di dalamnya Tuhan berulangkali menjelaskan “Maka, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?”. Kami mendapat foto yang mengagumkan, sebab foto ini membuktikan kebenaran Surat Ar-Rahman ayat 19 dan 20 yang berbunyi: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya
Sebuah Kata "Jika" Bermakna dalam Islam
Sebuah Kata "Jika" Bermakna dalam Islam - Hmmpp, selamat malam Sobat AgusTKJ-XP' Allhamdulillah admin bisa posting lagi' artikel Islam pada malam hari ini, dari pada bingung mau ngapain, gk ada rokok,makanan atau apalah.. mendingan kita harus tahu' apa sih kata jika dalam ISLAM ? mau bro ?? oke silahkan baca Sebuah Kata "Jika" Bermakna dalam Islam dibawah ini. dan jangan Lupa tinggalkan
Minggu, 07 April 2013
Belasan Tahun Murtad, Al-Fatihah Menuntunnya Kembali ke Pelukan Islam
Dia pernah menjadi Muslim. Tapi, impian duniawi membawanya pada kesibukan dan kealpaan hingga melupakan Allah. Raya Shokatfard, wanita asal Iran itu melanglang ke negeri Paman Sam untuk memenuhi ”impian Amerika”-nya yang menggebu.
Namun, setelah kesuksesan diraih, hatinya terasa kosong. Ia pun kembali mencari eksistensi Tuhan. Tak langsung kembali kepada Islam, ia lebih dulu mempelajari agama Buddha, Hindu, lalu Kristen. Tapi, hasil kajiannya terhadap tiga agama itu justru mengantarnya kembali kepada Allah. Ia pun mendapatkan kembali hidayah keislaman yang pernah ia tinggalkan. Air mata menderas di pipi Raya saat mengisahkan perjalanan panjangnya itu.
Kisah pilu Raya bermula saat ia hijrah dari Iran ke Amerika pada 1968. Saat itu usianya masih sangat belia, 19 tahun. Tak hanya meninggalkan negaranya, Raya pun menanggalkan gaya hidupnya sebagai orang Iran, termasuk keislamannya. “Aku meninggalkan Iran, pindah ke AS. Aku tinggalkan pula Islam dan identitas sebagai Muslim,” kisahnya, seperti dikutip dari kanal milik Raya di Youtube.
Saat tinggal di AS, ia pun hidup seperti remaja AS pada umumnya: bersenang-senang dan diliputi kilau duniawi. Raya kemudian memulai ”impian Amerika”-nya dengan merintis bisnis di Manhattan, Kalifornia Selatan. Butuh beberapa tahun bagi Raya untuk mencapai impiannya menjadi kaya dan sukses. Wanita yang meraih gelar sarjana dari Southern Oregon University (SOU) itu berhasil menggapai mimpinya di usia yang terbilang amat muda. Berawal dari bisnis toko pakaian, ia meraih puncak kesuksesan saat beralih ke bisnis real estate. Ia menjadi maestro real estate di kawasan Pantai Manhattan. “Alhamdulillah, saya sangat sukses di bisnis real estate. Saya sangat beruntung,” ujarnya bersyukur.
Menjadi pebisnis sukses, mudah bagi Raya membeli segala kemewahan dunia. Ia punya mobil Rolls Royce dan tinggal di rumah megah di tepi pantai. Kebunnya amat luas dengan aneka ternak hidup di dalamnya. Jalan-jalan keliling dunia pun amat gampang dilakoninya. Namun, setelah gemerlap dunia ia dapatkan, Raya justru merasakan kekosongan jiwa. Alih-alih bahagia, ia merasa hatinya begitu hampa. “Saya mulai merasakan sesuatu yang hilang, terasa sangat kosong,” ujar Raya dengan mata sayu.
Kekosongan hati terus melandanya. Wanita bergelar master bidang jurnalisme dan komunikasi publik ini pun kemudian mencari tahu penyebab kekosongan hatinya. Ia mengikuti beragam workshop dan kuliah, tapi tak menjawab permasalahannya. Entah mengapa, kemudian tumbuh keinginannya untuk mencari eksistensi Tuhan. Maka itu, dimulailah perjalanannya mencari Tuhan.
Perjalanan itu ia awali dari agama Hindu. Ia amat tertarik dengan kedamaian dalam ajaran agama tersebut. Dia pun menjadi penganut Hindu. Merasa kurang puas, ia lalu mencari Tuhan di agama lain. Kali ini, pilihannya jatuh ke agama Buddha. Ia pun menjadi umat Buddha. Tak lama, ia keluar dari agama ini karena kembali gagal menemukan eksistensi Tuhan.
***
Raya lalu bergabung dengan gerakan New Age, sebuah gerakan yang mengajarkan kebebasan diri tanpa Tuhan. Gerakan yang pamornya amat mencorong di Amerika kala itu membawa Raya pada kehidupan yang bebas dan mandiri tanpa Tuhan. “Anda adalah master dalam kehidupan Anda, Anda memiliki takdir sendiri, Anda adalah Tuhan dalam kehidupan Anda, dan banyak elemen lain yang saya pelajari di sana. Tapi, kemudian saya berpikir, saya tak mampu menjadi master dalam perjalanan hidup saya. Saya tidak dapat membayangkan ke mana hidup saya akan pergi. Saya pun tak nyaman di sana,” demikian Raya berkisah.
Menjadi Kristiani
Dari New Age, Raya kemudian menjadi penganut Kristiani. Ia bertahan cukup lama sebagai seorang Kristen, yakni tujuh setengah tahun. Ia begitu tertarik dan terpesona dengan kebersamaan dan persaudaraan umat Kristiani yang kuat. Lalu, jadilah Raya penganut Kristen yang taat ke gereja, mempelajari Alkitab, bahkan mengajarkannya. Ia juga belajar teologi Kristen di sebuah universitas. Tapi, lagi-lagi Raya merasa gelisah. Ia merasa belum menemukan Tuhan yang diinginkannya.
Dari New Age, Raya kemudian menjadi penganut Kristiani. Ia bertahan cukup lama sebagai seorang Kristen, yakni tujuh setengah tahun. Ia begitu tertarik dan terpesona dengan kebersamaan dan persaudaraan umat Kristiani yang kuat. Lalu, jadilah Raya penganut Kristen yang taat ke gereja, mempelajari Alkitab, bahkan mengajarkannya. Ia juga belajar teologi Kristen di sebuah universitas. Tapi, lagi-lagi Raya merasa gelisah. Ia merasa belum menemukan Tuhan yang diinginkannya.
Nah, di titik inilah ia mulai tertarik kembali pada Islam. Sebelum memantapkan diri kembali ke pangkuan Islam, ia sempat pamit pada pastur yang selama ini membimbingnya dalam agama Kristen. Raya sangat gembira karena sang pastur amat terbuka dan membebaskannya memilih agama yang diyakini.
Selama 15 tahun, Raya jatuh bangun mencari eksistensi Tuhan. Beragam agama sudah ia anut. Namun, siapa sangka, ia justru kembali pada agama yang dianutnya saat masih tinggal di Iran, Islam.
Raya amat pilu saat mengenang perjalanannya hingga kembali kepada Allah. Linangan air mata membasahi pipinya karena menyesal pernah melupakan Allah. Ia merasa bodoh pernah melepaskan hidayah yang begitu nikmat, hidayah Islam. Namun, Allah begitu mencintai hamba-Nya sehingga Raya diberi kesempatan kedua untuk kembali mendapatkan hidayah itu.
***
Sungguh indah kisah kembalinya Raya ke pangkuan Islam. Ia hanya membaca Surah al-Fatihah saat pertama kali membuka Alquran setelah kemurtadannya selama belasan tahun. Hanya dengan tujuh ayat dalam surah pembuka Kitabullah, Raya sudah menyadari kesalahannya dan menyadari bahwa Allahlah satu-satunya Tuhan, tiada yang berhak disembah selain Allah.
Baru saja membaca Basmalah, Raya sudah merinding. Ayat pertama al-Fatihah membuatnya menyadari bahwa Allahlah Tuhan segala sesuatu, Tuhan semesta alam. Sedangkan, manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta itu. Membaca ayat kedua, air matanya tak kuasa lagi terbendung. “Saya melupakan-Nya, tapi Dia tak pernah melupakan saya.” Ia sungguh merasa malu pada Allah.
Setiap ayat dalam al-Fatihah benar-benar meresap ke jiwa Raya. Saat tiba di ayat yang berbunyi, “Hanya kepada-Nya kami menyembah dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan,” hati Raya serasa tercambuk. Ia tak habis pikir mengapa bisa melupakan Allah dan justru mencari pertolongan kepada selain-Nya. “Saat membaca ayat ini, saya merasa sebuah batu besar dari langit jatuh dan memukul saya,” ujar Raya dengan air mata yang tak henti mengalir.
Ayat berikutnya hingga terakhir, benar-benar membuat Raya menemukan jalan kembali pada Islam. Jalan lurus yang disebut dalam al-Fatihah sangat diinginkan Raya. Ia pun merasa Allah telah menunjukkan “Sirath al-Mustaqim” tersebut kepadanya. “Terakhir, saya meminta padanya jalan yang lururs dan Dia membimbing saya pada jalan lurus tersebut,” pungkas Raya bersyukur.
Maka, kembalilah Raya pada agamanya, agama yang lurus yang diridhai Allah, yakni Islam. Saat ini, Raya berusia 62 tahun. Meski tak muda lagi, ia sangat aktif dalam menyebarkan ajaran Islam. Berbekal pendidikannya, ia pernah menjadi asisten editor di SOU untuk situs islam yang berbasis di Los Angeles.
Ia pun menjadi koresponden asing, penulis, editor dan produser film dokumenter untuk web onislam.net. Ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi dan konsultan untuk situs Reading Islam. Melalui jurnalistik, Raya aktif menyuarakan perdamaian dan hak asasi perempuan.
Sumber : Dakwatuna
Senin, 18 Maret 2013
Banyak Situs di Masjidil Haram Alih Fungsi
Dirobohkan Kontraktor Bin Ladin
INILAH.COM, Mekah – Sejumlah foto baru yang diambil para aktivis Arab Saudi menggambarkan banyak situs suci di sekitar Masjid al-Haram di Mekah dirobohkan atas nama pembangunan oleh kontraktor milik keluarga Bin Ladin.
Foto-foto yang diperoleh oleh para aktivis Islam itu menunjukkan para buruh bangunan dengan peralatan mesin penggalian dan pengerukan meruntuhkan bagian timur Masjid Agung al-Haram yang dibangun oleh Kesultanan Abbasiyah (Irak) dan Utsman (Turki).
Masjidil Haram adalah situs paling suci yang berdekatan dengan Ka’bah, yang menjadi kiblat umat Islam saat bershalat. Bagian masjid yang dirobohkan itu merupakan bagian yang masih terisisa dari sejarah masjid agung ini, yang dibangun ratusan tahun silam.
Sebuah kolom atau pilar yang diyakini sebagai tempat nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj ke Al-Quds (Yerusalem) dan sorga dalam semalam. Kolom-kolom Masjidil Haram yang dibangun dinasti Utsman dan Abassiyah memiliki kaligrafi indah Arab bertuliskan nama-nama para sahabat Nabi Besar SAW serta banyak momen sejarah penting dalam kehidupan Nabi.
Pemerintah Arab Saudi mengklaim penghancuran ini sesuai dengan rencana memperluas daya tampung masjid ini agar lebih banyak lagi jemaah bisa berdoa. Perusahaan konstruksi raksasa milik keluarga Usamah bin Ladin, Binladin Corporation, pimpinan ayah Usamah bin Ladin, memenangi tender proyek perluasan masjid ini.
Grup Binladin memang menjadi anggota aktif Dewan Bisnis AS-Arab Saudi serta memainkan peran sentral dalam kebijakan bilateral demi keuntungan penyandang dana AS-Arab yang berhubungan dengan kepentingan geopolitik.
Imam Masjid Agung al-Haram, Sheikh Abdul Rahman al-Suadis, ditunjuk Raja Abdullah menjadi pimpinan proyek. Banyak yang melempar kritik proyek pembangunan ini merupakan bagian dari agenda Barat dan Israel untuk meminggirkan warisan arkeologi, sejarah dan kebudayaan Islam melalui tangan rezim Riyadh. Apalagi rezim Riyadh yang memeluk aliran pemikiran Wahabi yang mengintepretasikan ajaran Islam secara ekstrem, tak fleksibel dan kolot.
Dr Irfan al-Alawi, direktur eksekutif Yayasan Penelitian Warisan Islam yang melihat foto-foto yang diambil dari dalam Masjid Agung mengatakan, pembangunan Masjid al-Haram dapat dilakukan tanpa merobohkan situs-situs suci bersejarah. “Yang menjadi persoalan banyak kolom masjid ini yang menjadi tempat penting Nabi duduk dan berdoa,” kata Alawi.
“Sebuah rekam jejak historis sedang dimusnahkan. Umat Muslim yang baru tak akan lagi tahu lokasi-lokasi Nabi duduk dan berdoa. Ada banyak cara untuk memperluas Mekah dan Media tapi juga melindungi warisan sejarahnya dan situs-situs di sekitarnya,” Alawi menekankan.
Rezim Riyahd juga akan membuldoser tiga masjid tertua di sekitar Masjid Nabawi di kota suci Medinah. Para pejabat Saudi tak menyatakan dengan jelas rencana pembuldoseran yang semestinya menghormati masjid-masjid bersejarah yang dibangun di masa dinasti Abbasiyah dan Utsman.
Gulf (Persian) Institute yang bermarkas di Washington sudah membuldoser 95 persen bangunan-bangunan suci yang berumur 1.000 tahun atau lebih di kota-kota suci Mekah dan Medinah dalam 20 tahun terakhir, dengan tujuan demi perluasan pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung pencakar langit dan hotel-hotel gemerlap.
Saat pembangunan kompleks Jabal Omar di Mekah, yang bangunannya sendiri menutupi Masjid al-Haram, para pejabat Arab merusak banyak situs arkeologi, khususnya tempat Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah isteri Nabi Siti Khadijah, digusur dijadikan lokasi sebuah perpustakaan dan jamban umum.
Dua dari tujuh masjid yang dibangun untuk menandai perang antara kaum Muslimin dan Yahudi (Battle of the Trench, Perang Parit) pada tahun 627 di Mekah, saat Rasulullah masih hidup, serta sebuah Masjid Ghamama yang dibangun cucu Nabi Hassan bin Ali Abu Thalib yang diledakkan dengan dinamit sepuluh tahun silam.
Yang mengengejutkan, dari foto-foto yang diambil kemudian diselundupkan keluar itu, mengungkapkan betapa para polisi Arab Saudi bertepuk sorak saat dua masjid ini dirobohkan. [Riset dari berbagai kantor berita]
Langganan:
Postingan (Atom)